≡ Menu

Ekstrovert adalah salah satu kepribadian atau sifat pribadi manusia yang lebih cenderung berorientasi kepada lingkungan. Sifat yang paling menonjol dari seorang ekstrovert adalah ia akan sangat sering terlihat dikeramaian, atau dalam arti sempitnya seorang ekstrovert adalah orang yang senang berpergian, berpesta, bertemu banyak orang dan ingin selalu jadi pusat perhatian.

Ciri-ciri Ekstrovert

1. Sangat senang berada di tengah keramaian.
Bagi seseorang yang memiliki kepribadian ekstrovert, ia merasa energinya akan terkumpul ketika berbicara dan berinteraksi dengan banyak orang. Ketika sedang berada di keramaian, Ia seolah-olah sedang mengisi tenaganya (charging) dan menguatkan moodnya. Oleh sebab itu, ia akan cenderung memilih untuk berinteraksi dengan banyak temannya, nonton, pergi ke mall, atau jalan-jalan yang penting berada di keramaian pada saat mengalami stress atau “bad day”.

Karena sangat “hidup” di keramaian, orang ekstrovert sangat tidak nyaman dengan suasana sepi. Suasana sepi bagi mereka akan membuatnya stress dan tertekan.

2. Mudah bergaul dan memiliki percaya diri yang tinggi
Orang ekstrovert sangat malas untuk berdiam diri menunggu, ia akan dengan mudahnya memulai pembicaraan dengan siapapun yang ada disekitarnya. Hal itu karena orang ekstrovert sangat percaya diri.

Sikap percaya diri tersebut membuatnya dapat mengontrol suasana lingkungan dan mencairkan suasana. Dan hal itu juga membuat seorang ekstrovert menjadi pusat perhatian.

3. Suka mencoba hal yang baru dan suka dipuji
Bagi mereka, kegiatan yang bersifat rutinitas tidak membuat dirinya berkembang dan maju, oleh sebab itu ia akan sering mencoba hal-hal yang baru seperti berjalan-jalan ke luar kota atau berwisata. Baginya tidak masalah menyesal saat melakukan kesalahan daripada menyesal tidak melakukan apa-apa.

Pujian dan apresiasi atas hal yang dilakukan orang ekstrovert adalah hal yang sangat membuatnya semakin bersemangat. Sehingga apapun yang dilakukan oleh orang yang berkepribadian ini, sebaiknya Kita menghargainya dengan memberikan pujian walaupun itu merupakan hal yang biasa-biasa saja.

4. Menjalin hubungan yang serius dalam hal percintaan
Dalam hal percintaan, seorang ekstrovert sangat mudah untuk memilih. Karena Ia mudah untuk berkenalan dengan lawan jenis, meminta nomor telepon, dan mengajak lawan jenis untuk bertemu dan melakukan pendekatan.

Namun apabila sudah ke tahap mengajak kencan atau pacaran, biasanya mereka memiliki kesulitan karena orang dengan kepribadian ini cenderung sulit untuk membina hubungan personal yang lebih dalam dengan seseorang.

Itulah beberapa ciri kepribadian ekstrovert yang dapat Anda ketahui. Apakah Anda Ekstrovert?!

Resepsi Pernikahan (Walimatul Urs’ / Resepsi / Syukuran) meskipun hanya 1 hari atau 2 hari, namun pada pelaksanaannya membutuhkan banyak hal yang perlu disiapkan sejak jauh hari (minimal 1 bulan sebelumnya). Beberapa tips & saran dibawah ini mungkin dapat membantu untuk merencanakan resepsi pernikahan secara umum.

Tips Umum Resepsi Pernikahan Berkesan

  • Jika biaya ditanggung bersama, buatlah daftar pembagian yang jelas mana yang menjadi tanggungan masing-masing.
  • Jika anda harus meminjam kepada pihak ke tiga (misal bank atau yang lainnya) lakukan jauh-jauh hari, sehingga anda punya cukup waktu untuk melengkapi persyaratannya.
  • Untuk semua urusan, diselesaikan dengan terperinci, detil dan dibukukan, sehingga anda tidak perlu bolak-balik dan berkutat pada urusan yang itu-itu saja
  • Tidak perlu membuat tim yang besar, cukup tim kecil namun efektif. Biasanya, terlalu banyak orang yang terlibat justru merepotkan.
  • Persiapkan dana cadangan untuk anggaran yang tidak terduga

Tips Perencanaan dan Persiapan Pernikahan

    1. Menentukan Tanggal dan Waktu Pernikahan
    2. Mengurus surat-surat, administrasi dan mencari Penghulu
    3. Memilih Cincin, mas kawin dan kelengkapannya
    4. Mengumpulkan Nama dan Alamat undangan
    5. Survey dan Memilih Tempat ( Rumah Atau Gedung ) dengan pertimbangan: Luas dan kapasitas lokasi, Parkir, Keamanan, Kenyamanan, Kebersihan, Air, Listrik, dll
    6. Menyelaraskan jumlah undangan dengan lokasi pernikahan
    7. Foto pre wedding
    8. Survey dan menentukan jenis makanan / menu, misal: Memasak sendiri, Menyewa tukang masak, Catering dll
    9. Silaturahmi kepada orang yang terpilih, misal: Saudara, Teman atau Tetangga, Ulama, atau sesepuh agama
    10. Membuat Rencana Biaya dan Daftar Anggaran Pengeluaran
    11. Memilih & Menentukan Tema Pernikahan, misal: Cara Jogja / Solo / Muslim / Eropa / Chinesse, Nuansa Hijau, Merah, Biru, Putih, dll
    12. Membuat Kepanitiaan
    13. Membuat Buku Panduan dan Runtutan Prosesi Acara
    14. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab (dari Panitia Bagian Peralatan sampai dengan Penerima Tamu)
    15. Mencetak undangan dan menyebar undangan
    16. Menyiapkan paket hantaran
    17. Check kesehatan ke dokter
    18. Mengurus Akomodasi Tamu-tamu dari luar kota
    19. Menyusun daftar wajib foto ( keluarga, teman, kerabat )
    20. Mengurus cuti / libur
    21. Siapkan alat komunikasi
    22. Menghindari konflik dan memecahkan masalah
    23. Mencari atau Memesan: Tenda atau Gedung, Rias manten, Daftar yang dirias & Baju manten, Seragam (Seragam Keluarga, Among Tamu, dll ), Fotografer dan Videografer, Sound system & Kelistrikan, MC Utama, MC Serah Terima, MC Sambutan, Buku daftar hadir / buku tamu dan Souvenir, Hiburan ( Solo Orgent, Campursari, Rebana Tari, dll ), Dekorasi : kamar pengantin, pelaminan, Akad Nikah, Hand Bouquet, Transportasi ( sepeda motor, pick up, bus, supir, dll ), Mobil manten
    24. Gladi Bersih ( cross check keseluruhan )
    25. Selesai Acara: Membereskan sisa urusan, Mengirimkan ucapan terima kasih, memohon maaf atau memberi hadiah kepada semua yang telah membantu
    26. Honey Moon / Bulan Madu

Tips Menghemat Pengeluaran untuk Pernikahan

  • Membatasi jumlah undangan.
  • Menggunakan e-mail, telepon atau sms untuk menyebarkan undangan.
  • Cukup menyewa baju pengantin ( tidak perlu membuat ).
  • Menyewa seragam among tamu / buku tamu / pagar ayu
  • Mengadakan resepsi di rumah.
  • Untuk makanan, meminta bantuan saudara / tukang masak (tidak pesan Catering ).
  • Mengurangi prosesi acara yang dianggap kurang perlu.
  • Memesan paket perkawinan yang sesuai dengan anggaran.
  • Meminta bantuan teman dan kerabat untuk menjadi MC dan pengisi hiburan.
  • Meminjam mobil pengantin dari saudara / teman (tidak menyewa)
  • Kurangi atau hilangkan pos-pos pengeluaran yang tidak perlu.
  • Kejelasan dalam Perjanjian Kerja ( jika menggunakan Jasa Wedding Organiser )

Konsep resepsi pernikahan sederhana tapi tetep syar’i & bermakna

  1. Tidak mengadakan acara resepsi yang berlebihan. Cukup dengan syukuran sederhana bersama keluarga, saudara & teman-teman terdekat.
  2. Tidak mengundang orang untuk menghadiri acara resepsi/ syukuran (prasmanan). Agar menghindari budaya atau adat “kondangan” (yang biasanya memberikan kado / uang kepada pengantin sebagai hadiah)
  3. Cukup membuat snack / bingkisan sebagai hadiah kepada tamu (Bisa berupa buku risalah nikah)
  4. Berbagi kepada anak yatim/ dhuafa.
  5. Silaturahmi kepada keluarga, saudara, kerabat & teman yang belum mengetahui tentang pernikahan tersebut.

Itulah Tips umum untuk melaksanakan Resepsi Pernikahan berkesan yang dapat catatankecil.com bagikan untuk Anda. Selain itu Anda juga dapat membaca Tips resepsi pernikahan yang Islami yang dapat Anda pertimbangkan sebelum melaksanakan pernikahan.

Lebaran telah usai dan biasanya setelah lebaran banyak sekali pasangan kekasih yang akan melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan. Bagi Anda yang juga akan melangsungkan pernikahan, Catatankecil.com kali ini akan berbagi informasi tentang bagaimana merencanakan resepsi / walimah secara sederhana tapi tetap tidak mengurangi nilai sakral nya pernikahan itu sendiri.

Resepsi pernikahan yang “umum” saat ini

Walimatul ‘ursy atau resepsi pernikahan memang pada hakikatnya adalah berbagi kebahagian atas karunia nikah bagi yang melangsungkan kepada keluarga, saudara & teman. Sehingga pada pelaksanaannya sebenarnya tidak perlu sampai memaksakan acara yang memang diluar kemampuan calon pengantin. Namun yang terjadi saat ini mungkin banyak yang terjadi seperti ini.

1. “terpaksa” menikah cepat
Menikah cepat karena terpaksa dengan keadaan. Mungkin sebagian sudah mengerti & sudah banyak menemui pernikahan yang seperti ini. Karena pernikahan didasarkan oleh nafsu syahwat, yang pada akhirnya dengan kondisi seadanya keluarga menjadi penopang untuk melangsungkan resepsi pernikahan. Na’udzubillah. Dan tidak dianjurkan bagi orang mukmin untuk hadir dalam acara tersebut.

2. “Biar tekor asal kesohor”
Ini sering & bisa temui di beberapa daerah yang tingkat sosial & derajat tiap keluarga dilihat dari segi ekonomi. Atau istilah lain adalah “panasan” (panas hati jika melihat orang lain mempunyai kemampuan lebih untuk melakukan sesuatu hal yang sama). Bahasa lainnya bisa kita sebut sirik. Susah lihat orang lain seneng, seneng lihat orang lain susah. Demi tersohor, rela untuk mengeluarkan dana sebesar-besarnya (bahkan sampai hutang) untuk meningkatkan gengsi dimata orang lain.

3. Lebih mengutamakan adat istiadat dibanding dengan syariat
Sesajen, umbo rampe, pedupan, suji dsb. Mungkin bagi orang-orang tua kita yang tidak mengerti tentang islam menganggap hal ini wajib bagi setiap mengadakan acara. Entah maksud dan tujuannya apa, namun adat seperti ini jika kita tidak terima, maka sebagian besar perdebatan tidak terelakan. Sebaiknya hal seperti ini dibicarakan melalui pihak ketiga (ustadz atau kyai) tidak langsung oleh anak kepada orang tua agar tidak terjadi perdebatan.

Adab Walimah (Resepsi Pernikahan) yang Islami

Karena pernikahan adalah ibadah, maka segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk tata cara pernikahanpun tidak boleh keluar dari konteks ibadah, yakni tidak keluar dari aturan islam. Meskipun walimatul ‘ursy tidak terpisahkan statusnya dari acara pernikahan sebagai ibadah, namun dalam pelaksanaanya seringkali cenderung didominasi oleh adat-istiadat setempat yang disadari atau tidak akan merusak nilai ibadah itu sendiri. Islam menganjurkan mengadakan walimah, walaupun dalam bentuk yang sederhana.

Hal- hal yang harus diperhatikan pada penyelenggaraan Resepsi Pernikahan

1. Bertujuan untuk melaksanakan ibadah.
Tidak dibenarkan menyelenggarakan walimah dengan didasari oleh kepentingan-kepentingan selain mencari ridlo Allah SWT. Harus dijauhkan upacara-upacara yang mengandung kemusyirikan. Seperti ada sesajian atau bentuk-bentuk yang dipengaruhi oleh agama Budha dan Hindu. Menghindari kecenderungan sikap riya’ yakni memamerkan kemewahan, kekayaan atau kecantikan dan hal-hal lain yang sejenis.

2. Menghindari kemaksiatan
Harus dihindari suasana campur baur (iktilath) antara undangan laki-laki dan wanita karena memang secara khusus kehidupan kelompok laki-laki dan kelompok wanita adalah terpisah. Anda juga dapat mengetahui hal-hal yang sebaiknya dihindari sebelum pernikahan.

3. Mengundang kaum fakir miskin.
Tidak membatasi pada undangan kaum kaya saja. “Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah dimana orang-orang miskin tidak diundang. (H.R. Muslim dan Baihaqi)

4. Menutup aurat dan tidak tabaruj.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istrimu, anak-anak perempuanmu, wanita-wanita mukmin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka.” (QS. Al-Ahzab 59)

5. Tidak menjadikan gadis sebagai penerima tamu laki-laki.
“Katakanlah kepada laki-laki beriman, hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. 29:30)

Itulah Tips Resepsi Pernikahan yang Islami yang dapat Anda pertimbangkan sebelum melaksanakan pernikahan.

Resepsi Pernikahan (Walimatul Urs’ / Resepsi / Syukuran) meskipun hanya 1 hari atau 2 hari, namun pada pelaksanaannya membutuhkan banyak hal yang perlu disiapkan sejak jauh hari (minimal 1 bulan sebelumnya). Beberapa tips menjelang pernikahan dan Tips Resepsi Pernikahan Berkesan mungkin dapat membantu untuk merencanakan resepsi pernikahan secara umumnya. Semoga bermanfaat.

Manfaat Ekstrak Biji Pepaya untuk Kesehatan ternyata masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Bahwa ternyata biji pepaya yang biasa kita buang, punya manfaat bagi kesehatan yang mungkin belum pernah Kita ketahui. Sampai saat ini masyarakat mayoritas hanya mengetahui manfaat daun pepaya untuk kesehatan.

Manfaat Ekstrak Biji Pepaya untuk kesehatan salah-satunya, yaitu untuk menyingkirkan racun-racun yang menumpuk di usus dan liver kita. Hasil penelitian menunjukkan, racun yang ikut terbawa dari makanan yang Kita konsumsi dapat menumpuk hingga seberat delapan kilogram dalam usus kita.

Dikutip dari Club Diet Sehat Bersama dr. Wahyu Triasmara – DrW, di Facebook pada 28 Februari 2015, menjelaskan, biji pepaya juga mengandung zat antikolesterol yang hebat.

Penelitian menunjukan bahwa ekstrak biji pepaya mampu melindungi ginjal dari racun yang memicu problem gagal ginjal bahkan ekstrak biji pepaya juga mampu membunuh parasit dalam bersarang dalam pencernaan. Selain itu mengkonsumsi biji buah pepaya secara rutin juga bermanfaat sebagai antioksidan dalam darah.

Bagaimana manfaat ekstrak biji pepaya ini dapat membantu kesehatan Anda?

Dalam penelitian mengenai jus biji buah pepaya, didapatkan hasil penelitian yang sangat mengejutkan bahwa jus biji pepaya yang dikonsumsi secara rutin secara signifikan dapat menurunkan kadar kolesterol dan LDL (lipoprotein densitas rendah), serta meningkatkan kadar HDL.

Ekstrak biji pepaya ini memiliki kandungan tanin, alkaloid, flavonoid (yang antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas), saponin anthraquinones, dan anthocyanosides. Dengan adanya kandungan ekstrak tersebut, biji pepaya ini mempunyai efek hipolipidemia dan antioksidan dalam darah yang luar biasa.

Efek hipolipidemia ini, sangat berguna bagi terapi alternatif hiperlipidemia yang disebabkan adanya lemak nabati atau kolesterol dalam jumlah terlalu tinggi. Kandungan Fitokimia memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Selain itu, saponin yang terkandung dalam biji pepaya, bermanfaat untuk menurunkan aktifitas kolesterol serum seperti aksi resin, yaitu dengan mengurangi sirkulasi enterohepatik asam empedu. Melalui penghambatan reaksi oksidasi kolesterol LDL ini maka dapat menurunkan kadar kolesterol darah.

Cara mendapatkan manfaat ekstrak biji pepaya untuk kesehatan

Ada dua cara untuk mendapatkan manfaat ekstrak biji pepaya. Yaitu dengan membuatnya menjadi jus atau biji pepaya dibuat serbuk seperti kopi dan Anda dapat mengkonsumsinya dengan cara menyeduhnya.

Untuk membuatnya menjadi jus, biji pepaya yang sudah dibersihkan diblender dan disajikan seperti kita membuat jus. Anda juga bisa sedikit menambahkan madu agar jus biji pepaya lebih enak untuk diminum.

Untuk cara kedua, yaitu membuat serbuk biji pepaya, berikut caranya.

1. Cuci biji pepaya hingga bersih, kemudian jemur diterik matahari hingga biji benar-benar kering. Proses ini membutuhkan waktu setidaknya dua sampai tiga hari tergantung cuaca.
2. Setelah kering, Anda dapat membuat biji pepaya menjadi serbuk dengan cara menumbuknya atau memblendernya.
3. Seduh satu sendok teh serbuk biji pepaya dengan 200ml air hangat, Anda juga dapat menambahkan gula atau madu agar rasanya lebih enak untuk diminum.

Atau jika Anda berniat untuk membuat jus biji pepaya, Anda juga dapat membuatnya dengan daging buah pepayanya sekaligus.

Anda dapat mengkonsumsi jus biji pepaya tersebut secara rutin dua atau tiga hari sekali atau paling tidak seminggu sekali. Rasakan manfaat ekstrak biji pepaya setelah satu bulan mengkonsumsinya. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Bahaya MSG atau penguat rasa pada makanan yang Kita konsumsi ternyata tidak hanya berupa rasa candu atau ketagihan, namun juga dapat merusak jaringan otak yang berfungsi mengendalikan nafsu makan.

Penguat rasa makanan, atau yang sering disebut MSG (Monosodium Glutamate), dapat merusak nafsu makan seseorang yaitu dengan merusak jaringan otak yang bertugas untuk mnegendalikan nafsu makan. Rasa penguat yang ditimbulkan dapat menyebabkan seseorang sangat ketagihan luar biasa pada makanan yang mengandung MSG ini.

Berikut ini 4 bahaya MSG bagi tubuh manusia, antara lain:

1. MSG dapat menyebabkan kegemukan

Pada dasarnya, MSG memberikan rangsangan yang berlebih kepada otak untuk mengatur nafsu makan. Mengkonsumsi MSG secara terus menerus akan membuat rasa ketagihan yang berelebihan terhadap makanan yang mengandung MSG ini.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Tiongkok yang melibatkan 750 orang sehat usia 40-59 Tiongkok yang diambil dari sebuah desa di Tiongkok. Sebagian warga diminta mengkonsumsi makanan komersial yang mengandung MSG dan sebagian warga lainnya mengkonsumsi makanan yang sehat tanpa MSG. Hasilnya, warga yang mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG memiliki indeks berat badan yang lebih tinggi dibanding yang lain.

2. MSG dapat memacu peradangan hati

Ini yang paling berbahaya dari mengkonsumsi MSG secara berlebihan dan dalam waktu yang lama (terus menerus) dapat menyebabkan kerja liver (hati) menjadi tidak normal dapat memicu terjadinya peradangan hati.

3. MSG juga berfungsi sebagai pengawet makanan

Hampir semua jenis makanan cepat saji menggunakan MSG. Karena selain cepat disajikan, penggunaan MSG juga dapat menjadi pengawet makanan yang instan dan mudah meskipun efeknya tidak seperti pengawet makanan yang lain. Dan Anda mungkin sudah mengetahui bahaya pengawet makanan apabila dikonsumsi yaitu salah satunya adalah penyebab peradangan hati dan lambung.

4. MSG dapat memperlambat perkembangan kecerdasan anak

Kandungan MSG yang mengganggu kinerja otak, sangat tidak baik untuk perkembangan otak anak Anda. Karena apabila terus menerus mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, dalam jangka waktu tertentu dapat memperlambat perkembangan kecerdasan otak anak Anda. Dan hal itu bukan hal yang Anda inginkan bukan?! Jadi Anda harus pintar dalam memilih makanan, khususnya untuk anak Anda.

Itulah 4 bahaya MSG bagi tubuh manusia yang dapat catatankecil.com informasikan kepada Anda. Baca juga artikel-artikel seputar tips, trik, kecantikan, kesehatan, motivasi, desain rumah dan informasi menarik lainnya dari kami.

Dan sebarkan informasi serta tips dari kami kepada kawan, sahabat, dan keluarga Anda agar Kita semua mendapatkan banyak manfaat dengan sedikit berbagi ilmu.

Halal dan haram adalah dasar ilmu dalam islam untuk menentukan suatu makanan, perbuatan, dll apakah boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim.

Asal status hukum tiap-tiap sesuatu adalah mubah

Bahwa asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali karena ada nash yang sah dan tegas dari syar’i. Kalau tidak ada nash yang sah – misalnya karena ada sebagian hadis lemah – atau tidak ada nash yang tegas yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana hukum asalnya, yaitu mubah.

Arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit sekali dan arena halal malah sangat luas. Hal ini karena nash-nash yang shahih dan tegas dalam hal haram, jumlahnya sangat minim sekali.

“Apa saja yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, maka dia adalah halal; dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma’fu). Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun.” (HR. Hakim dan Bazzar)

“Dan Allah telah memerinci kepadamu sesuatu yang Ia telah haramkan atas kamu.” (QS. Al-An’am 6:119)

Ayat ini umum, meliputi soal-soal makanan, perbuatan, dll.

Berbeda dengan urusan ibadah. Dia itu semata-mata urusan agama yang tidak ditetapkan, melainkan dari jalan wahyu.

“Barangsiapa membuat cara baru dalam urusan kami, dengan sesuatu yang tidak ada contohnya, maka dia itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, barangsiapa mengada-ada suatu cara ibadah yang timbul dari dirinya sendiri – apapun macamnya – adalah suatu kesesatan yang harus ditolak.

Pokok dalam urusan ibadah adalah tauqif (bersumber pada ketetapan Alalh dan Rasul). Karena itu ibadah tersebut tidak boleh dikerjakan, kecuali kalau ternyata telah disyariatkan oleh Allah.”

Maka kaedahnya: “Soal ibadah tidak boleh dikerjakan kecuali dengan syariat yang ditetapkan Allah; dan suatu hukum adat tidak boleh diharamkan, kecuali dengan ketentuan yang diharamkan oleh Allah.”

Menentukan halal-haram semata-mata hak Allah

Bukan pendeta, bukan raja yang berhak menentukan halal-haram. Barangsiapa bersikap demikian, berarti telah melanggar batas dan menentang hak Allah dalam menetapkan perundang-undangan untuk ummat manusia. Dan barangsiapa yang menerima serta mengikuti sikap tersebut, berarti dia telah menjadikan mereka itu sebagai sekutu Allah.

Al-Qur’an telah mengecap ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang telah memberikan kekuasaan kepada para pastur dan pendeta untuk menetap-kan halal dan haram :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mem-pertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutu-kan.” (QS. At-Taubah 9:31)

Memang mereka tidak menyembah (sujud) kepada pendeta dan pastur, tetapi apabila pendeta dan pastur itu menghalalkan sesuatu, mereka pun ikut menghalalkan juga; dan apabila pendeta dan pastur itu mengharamkan sesuatu, mereka pun ikut mengharamkan juga. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.

Al-Qur’an telah mengecap juga kepada orang-orang musyrik yang bernai mengharamkan dan menghalalkan tanpa izin Allah.

“Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang Rezeki yang Diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah Memberikan Izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus 10:59)

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan keboho-ngan terhadap Alalh tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl 16:116)

Para ahli fiqih sedikitpun tidak berwenang menetapkan hukum syara’ ini boleh dan ini tidak boleh. Mereka dalam kedudukannya sebagai imam ataupun mujtahid, tidak suka berfatwa, satu sama lain berusaha untuk tidak jatuh kepada kesalahan dalam menentukan halal dan haram (meng-haramkan yang halal dan menghalalkan yang haram)

Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram sama dengan syirik

Dalam hadis Qudsi Allah berfirman, “Aku ciptakan hamba-hamba-Ku ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (HR. Muslim)

Karena itu Al-Qur’an menentang keras terhadap sikap orang-orang musyrik Arab yang berani mengharamkan atas diri mereka terhadap makanan dan binatang yang baik-baik, padahal Allah tidak mengizinkan-nya.

“Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan Perhiasan dari Allah yang telah Dikeluarkan-Nya untuk Hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami Menjelaskan Ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Katakanlah, “Tuhan-ku hanya Mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (Mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Alalh tidak menurunkan Hujah untuk itu dan (Mengha-ramkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. ” (QS. Al-A’raf 7:32-33)

Di Madinah sempat timbul di kalangan pribadi-pribadi kaum muslimin ada orang-orang yang cenderung berlebih-lebihan dan mengharamkan dirinya dalam hal-hal yang baik. Untuk itulah maka Allah menurunkan ayat-ayat muhkamah (hukum) untuk menegakkan mereka dalam batas-batas ketentuan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah Halalkan bagi kamu, dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah sebahagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah 5:87-88)

Mengharamkan yang halal akan berakibat timbulnya kejahatan dan bahaya

Allah menentukan halal dan haram adalah justru ada beberapa alasan yang ma’qul (rasional) demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Allah tidak akan menghalalkan sesuatu kecuali yang baik dan tidak akan mengharam-kan sesuatu kecuali yang jelek.

Dengan demikian, mengharamkan sesuatu yang halal itu dapat membawa satu keburukan dan bahaya. Sedang seluruh bentuk bahaya adalah haram.

Setiap yang halal tidak memerlukan yang haram

Islam tidak mengharamkan sesuatu kecuali di situ memberikan suatu ganti yang lebih baik guna mengatasi kebutuhannya itu.

Allah mengharamkan manusia untuk mengetahui nasib dengan membagi-bagikan daging pada azlam, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya dengan doa istikharah. Allah mengharamkan mencari untung dengan menjalankan riba; tetapi di balik itu Ia berikan ganti dengan suatu perdagangan yang membawa untung. Allah mengharamkan berjudi, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa hadiah harta yang diperoleh dari berlomba memacu kuda, unta dan memanah. Allah mengharamkan sutera, tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa aneka macam pakaian yang baik-baik, yang terbuat dari wool, kapuk dan cotton. Allah telah mengharamkan zina tetapi di balik itu Ia berikan gantinya berupa perkawinan yang halal. Allah mengharamkan minum minuman keras, tetapi di balik itu Ia berikan ganti-nya berupa minuman yang lezat yang cukup berguna bagi rohani dan jasmani. Dan begitu juga Allah telah mengharamkan semua macam makanan yang tidak baik, tetapi di balik itu Ia telah memberikan gantinya berupa makanan-makanan yang baik.

“Allah hendak Menerangkan (Hukum Syariat-Nya) kepadamu, dan Menunjukimu kepada Jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) Menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Allah hendak Menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa naffsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak Memberikan Keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisaa’ 4:26-28)

Apa saja yang membawa kepada yang haram, adalah haram

Jika Islam telah mengharamkan sesuatu, maka sarana dan cara apapun yang dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram.  Dosa perbuatan haram tidak terbatas pada pribadi si pelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi daerah yang sangat luas sekali, termasuk semua orang yang bersekutu dengan dia baik melalui harta ataupun sikap. Masing-masing mendapat dosa sesuai dengan keterlibatan-nya itu.

Semua orang yang membantu kepada orang yang berbuat haram, maka dia akan terlibat dalam dosanya juga.

Bersiasat terhadap hal yang haram, hukumnya adalah haram

“Jangan kamu berbuat seperti perbuatan Yahudi, dan jangan kamu menganggap halal terhadap larangan-larangan Allah walaupun dengan siasat yang paling kecil.”

Misalnya orang-orang Yahudi dilarang berburu pada hari Sabtu, kemudian mereka bersiasat untuk melanggar larangan ini dengan menggali, sebuah parit pada hari Jum’at supaya pada hari Sabtunya ikan-ikan bisa masuk ke dalam parit tersebut dan akan diambilnya nanti pada hari Ahad. Cara seperti ini dipandang halal oleh orang-orang yang memang bersiasat untuk melanggar larangan itu, tetapi oleh ahli-ahli fiqih dipandangnya suatu perbuatan haram, karena motifnya justru untuk berburu baik dengan jalan bersiasat maupun cara langsung.

Termasuk bersiasat yaitu menamakan sesuatu yang haram dengan nama lain, dan merubah bentuk, padahal intinya itu juga.

“Sungguh akan ada satu golongan dari ummatku yang menganggap halal minum arak dengan memberikan nama lain.” (HR. Ahmad)

“Akan datang suatu masa di mana manusia menganggap halal riba dengan nama jual-beli.”

Niat baik tidak dapat melepaskan yang haram

Niat yang baik itu dapat menggunakan seluruh yang mubah dan adat untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Sebab Islam selamanya menginginkan tujuan yang suci dan caranya pun harus suci juga. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

“Barangsiapa mengumpulkan uang dari jalan yang haram kemudian dia sedekahkan harta itu, sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosanya akan menimpa dia.” (HR. Ibnu khuzaimah, Ibnu Hubban dan Hakim)

“Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan keka-yaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga beroleh barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.” (HR. Ahmad)

Menjauhkan diri dari syubhat karena takut terlibat dalam haram

Syubhat adalah suatu persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia. Hal ini bisa terjadi mungkin karena tidak jelasnya dalil dan mungkin karena tidak jelasnya jalan untuk menterapkan dalil yang ada terhadap suatu persitiwa. Terhadap persoalan ini Islam memberikan suatu garis yang disebut Wara’ (suatu sikap berhati-hati karena takut berbuat haram). Di mana dengan sifat itu seorang muslim diharuskan untuk menjauhkan diri dari masalah yang masih syubhat, sehingga dengan demikian dia tidak akan terseret untuk berbuat kepada yang haram.

“Yang halal itu telah nyata, yang haram juga telah nyata dan diantara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang kebanya-kan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat itu, berarti ia telah membersihkan Din-nya dan kehormatannya. Barangsiapa yang melakukan hal-hal yang syubhat itu, sungguh ia telah melaksanakan yang haram. Seperti seorang gembala yang menggembala di sekitar pagar, hampir saja ia menggembala di dalamnya. Ketahuilah  bahwa setiap raja ada pagarnya. Dan pagar Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa didalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasadnya seluruhnya; jika ia rusak, rusaklah jasad selurunya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

Sesuatu yang haram berlaku untuk semua orang

Tidak ada sesuatu yang diharamkan untuk sekelompok orang tetapi dihalalkan untuk sekelompok yang lain. Setiap yang dihalalkan Allah dengan ketetapan undang-undang-Nya berarti halal untuk segenap ummat manusia. Dan apa saja yang diharamkan, haram juga untuk seluruh manusia.

Misalnya mencuri. Hukumnya adalah haram, baik si pelakunya itu muslim atau bukan. Hukumnya pun berlaku untuk setiap pencuri.

“Demi Allah! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, pasti akan kupotong tangannya.” (HR. Bukhari)

Pernah juga terjadi suatu anggapan dalam agama Yahudi bahwa riba itu hanya haram untuk seorang Yahudi jika berhutang kepada orang Yahudi yang lain. Tetapi berhutang kepada orang lain Yahudi tidaklah terlarang.

“Di antara ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercaya-kan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan-nya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengataka, “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.” Mereka berkata dusta terhadap Alalh, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran 3:75)

Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang

Seorang muslim dalam keadaan yang sangat memaksa, diperkenankan melakukan yang haram karena dorongan keadaan dan sekedar menja-ga diri dari kebinasaan.

“Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidaklah berdosa baginya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah 2:173)

Tetapi tetap ada pembatasan terhadap si pelakunya yaitu dengan kata-kata tidak sengaja (tidak sengaja untuk mencari kelezatan) dan tidak melewati batas.

Dari ikatan ini para ulama ahli fiqih menetapkan suatu prinsip yaitu manusia sekalipun boleh tunduk kepada keadaan dharurat, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada keadaan tersebut dan tidak boleh menjatuhkan dirinya kepada keadaan darurat itu dengan kendali nafsunya. Tetapi dia harus tetap mengikatkan diri kepada pangkal halal dengan terus berusaha mencarinya.

“Allah Menghendaki Kemudahan bagimu, dan tidak Menghendaki Kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah 2:185)

(Sumber : Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam)

Kisah Abu Bakar yang merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW ini bisa kita jadikan pelajaran dan hikmah di Ramadhan ini.

Kisah Abu Bakar ini terjadi saat beliau menjabat sebagai khalifah. Ia mempunyai seorang hamba yang menyerahkan sebagian dari pendapatan hariannya. Pada suatu hari hambanya itu telah membawa makanan lalu dimakan sedikit oleh Abu Bakar. Hamba itu berkata: “Kamu selalu bertanya tentang sumber makanan yang aku bawa tetapi hari ini kamu tidak berbuat demikian.”

“Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkan kepada ku dimana kamu mendapat makanan ini.”

Hamba: “Sebelum aku memeluk Islam aku menjadi tukang ramal. Orang-orang yang aku ramal nasibnya kadang-kadang tidak dapat bayar uang kepadaku. Mereka berjanji akan membayarnya apabila sudah memperoleh uang. Aku telah berjumpa dengan mereka hari ini. Merekalah yang memberikan aku makanan ini.”

Mendengar kata-kata hambanya Abu Bakar memekik : “Ah! Hampir saja kau bunuh aku.”

Kemudian dia coba mengeluarkan makanan yang telah ditelannya. Ada orang yang menyarankan supaya dia mengisi perutnya dengan air dan kemudian memuntahkan makanan yang ditelannya tadi. Saran ini diterima dan dilaksanakannya sehingga makanan itu dimuntah keluar.

Kata orang yang mengamati : “Semoga Allah memberikan rahmat atas mu. Kamu telah bersusah payah karena makanan yang sedikit.”

Kepada orang itu Abu Bakar menjawab: “Aku sudah pasti memaksanya keluar walaupun dengan berbuat demikian aku mungkin kehilangan nyawaku sendiri. Aku mendengar Nabi berkata : “Badan yang tumbuh subur dengan makanan haram akan merasakan api neraka.” Oleh karena itulah maka aku memaksa makanan itu keluar takut kalau-kalau ia menyuburkan badanku.”

Abu Bakar sangat teliti tentang haram halalnya makanan yang dimakannya.

Jangan mendapatkan harta melalui jalan yang haram, Jangan gunakan harta yang haram bagi diri sendiri apalagi untuk orang lain.

Kelak diyaumil akhir akan ditanya ” Dari mana kamu peroleh hartamu dan kemana kau belanjakan “

Begitulah kisah Abu Bakar dengan seorang bekas tukang ramal. Semoga Kita dapat mengambil hikmah dari kisah Abu Bakar tersebut dan selalu menjaga makanan ataupun harta yang Kita peroleh, karena semua itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Kisah Nabi ini berasal dari Abu Laits as-Samarqandi. Ia adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada kisah nabi yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Inilah Kisah Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi

Pada suatu malam seorang Nabi bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi, lalu pergilah ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.” Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula.

Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu keluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.” Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu  sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya.

Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan mencium bau yang menyakitkan hidungnya.
Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi kerumahnya.
Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua.

Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.

Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat.

Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Itulah kisah Nabi yang mendapatkan wahyu melalui mimpi, semoga Kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah Nabi tersebut.

Hukum Mengambil Uang Suami Tanpa Ijin dalam islam. Apakah diperbolehkan atau dilarang?! Sebagian besar dari Kita belum mengetahui hal ini, sehingga pada kehidupan nyata banyak diantara para istri yang melakukan hal ini. Namun, bagaimana islam memandang hal ini?

Hukum Mengambil Uang Suami Tanpa Ijin dalam Islam

Dalam kehidupan rumah tangga, suami sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya bertindak sebagai orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup rumah tangga melalui nafkah alias uang belanja yang ia berikan kepada sang isteri sekaligus sang ibu bagi anak-anaknya.

Terkadang, terdapat kendala dalam rumah tangga yang terkait dengan sifat ‘buruk’ seorang suami sekaligus sang ayah ini di mana sekali pun kehidupannya sudah mapan, misalnya, ia begitu kikir dan pelit untuk mengeluarkan ‘kocek’ yang tak lain nafkah yang wajib diberikannya kepada keluarganya tersebut. Akibatnya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari terkadang sang isteri sekaligus sang ibu harus ekstra berhemat agar uang yang diberikan tersebut cukup untuk belanja.

Tetapi, ada kalanya sekali pun sudah menghemat sedemikian rupa, karena demikian meningkatnya kebutuhan dan semakin beranjak mahalnya harga barang-barang, uang belanja dari sang suami ini dirasakan kurang bahkan sangat kurang.

Nah, dalam kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan sang isteri? Bolehkah ia mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya demi mencukupi kebutuhan tersebut? Bila boleh, seberapa besarkah nilai uang belanja yang boleh diambilnya?

Berikut jawaban Rasulullah Muhammad SAW terkait Hukum Mengambil Uang Suami Tanpa Ijin

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Hindun Binti ‘Utbah, isteri Abu Sufyan menemui Rasulullah SAW seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan seorang laki-laki yang pelit (kikir), tidak memberikan nafkah kepadaku dengan nafkah yang mencukupi untukku dan anakku kecuali dari apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah aku berdosa karena hal itu.?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ambillah dari hartanya dengan cara ‘ma’ruf’ apa yang cukup buatmu dan anakmu.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Makna Ma’ruf : Tradisi dan adat, yakni sesuai dengan kondisi manusia dan tradisi yang berlaku di antara sesama mereka yang berbeda-beda dari sisi waktu, tempat, kemudahan dan kesulitan.

Dari hadits di atas, para ulama menyerap banyak sekali hukum, di antaranya:

1. Wajibnya memberi nafkah (uang belanja) kepada isteri dan anak-anak. Nafkah ini diemban secara khusus atas seorang ayah (suami) dan tidak dapat dibebankan kepada sang ibu (isteri) atau kerabat dekat.

2. Ukuran nafkah itu disesuaikan dengan kondisi keuangan sang suami dan orang yang menafkahi, dilihat dari aspek kekayaan, kefakiran dan kemudahan rizkinya.

3. Nafkah itu hendaknya berlaku secara ma’ruf. Artinya sesuai dengan adat dan tradisi yang berlaku dan ini tentunya berbeda-beda dari sisi waktu, tempat dan kondisi manusia.

4. Siapa yang sudah diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah, namun tidak memberi nafkah kecuali dengan sangat bakhil, maka boleh diambil dari hartanya walalu pun tanpa sepengetahuannya sebab ia merupakan nafkah yang wajib atasnya.

5. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas hajat orang banyak (sebagai penguasa), maka penentuan ukuran besarnya nafkah itu ditentukan menurut pendapatnya sebab ia lah orang yang diberi amanah dan memiliki kekuasaan (berwenang) atas hal itu.

6. Para ulama berbeda pendapat mengenai: apakah perintah Nabi SAW kepada Hindun untuk mengambil harta suaminya itu dinilai sebagai suatu putusan hukum sehingga kondisi ini adalah dalam rangka putusan hukum berdasarkan kejadian yang dominan, ataukah ia dinilai sebagai fatwa? Para ulama mengatakan, kisah Hindun ini mengandung dua kondisi antara keduanya; ia sebagai fatwa sekali gus juga putusan hukum. Tetapi kondisinya sebagai fatwa lebih dekat (tepat) sebab beliau SAW tidak menuntutnya (Hindun) untuk menghadirkan alat bukti atau memintanya agar bersumpah padahal Abu Sufyan sendiri masih ada di tempat alias tidak sedang ke luar kota. Sedangkan bila memang ia sebagai putusan hukum, maka semestinya dihadiri oleh kedua orang yang bersengketa tetapi dalam hadits itu, tidak terjadi (alias yang hadir hanya Hindun, isteri Abu Sufyan)

8. Pengaduan seperti itu dan semisalnya bukanlah merupakan benuk ghibah (gunjingan) yang diharamkan sebab Hindun mengadukan perkaranya kepada pihak yang berwenang (Rasulullah SAW), yang mampu berlaku adil terhadapnya serta dapat menghilangkan kezhaliman yang dialaminya.

9. Hadits tersebut mengandung makna umum, yaitu wajibnya memberi nafkah kepada anak-anak sekali pun mereka sudah besar (dewasa). Allah berfirman, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (QS.al-Baqarah:233)

10. Hadits tersebut merupakan bukti bahwa orang yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pemenuhan sesuatu yang sudah menjadi haknya, maka ia boleh mengambilnya sekali pun dengan cara diam-diam. Hal ini diistilahkan para ulama dengan masalah Zhafar, yang merupakan masalah khilafiyyah (yang masih diperselisihkan). Dalam hal ini, Imam asy-Syafi’i dan Ahmad membolehkannya sementara Imam Abu Hanifah dan Malik melarangnya. Pendapat yang kuat (rajih) adalah harus dirinci dulu; Artinya, bila sebab adanya hak itu memang jelas dan terang, maka si punya hak boleh mengambilnya karena sudah tidak ada syubhat lagi, sedangkan bila sebabnya masih samar, maka tidak boleh agar ia tidak dituduh melanggar hak orang lain.

Itulah penjelasan mengenai

(SUMBER: Tawdhiih al-Ahkaam Syarh Bulugh al-Maraam karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam, Jld.V, hal.131-132)

Kepribadian Sanguinis atau biasa dikenal sebagai “superstar” ini selalu menjadi perhatian banyak orang karena sifatnya yang suka bicara dan suka memotivasi orang lain serta memiliki rasa optimisme yang besar.

Jika di artikel sebelumnya memberikan informasi tentang ciri-ciri sanguinis, kekurangan dan kelebihan kepribadian sanguinis. Kali ini, Kita akan membahas bagaimana menyikapi kepribadian sanguinis sebagai teman, keluarga, rekan kerja atau kekasih Kita.

Kepribadian Sanguinis Sebagai Teman

Umumnya, seseorang yang memiliki kepribadian sanginis sangat mudah berteman dan mudah mencintai orang lain (tapi bukan berarti tipe playboy atau playgirl ya guys!). Mencintai orang lain dalam arti ia sangat menjaga orang lain agar selalu bahagia dan menerima dia saat bersama. Seorang dengan kepribadian sanguinis juga sangat menyenangkan, ia tidak segan-segan untuk meminta maaf terlebih dahulu saat terjadi kesalahan (meskipun bukan si sanguinis yang melakukan kesalahan).

Cara Menyikapi Kepribadian Sanguinis Sebagai Teman

Jika Kita memiliki teman dengan kepribadian sanguinis, sebaiknya Kita sering memuji hal-hal yang telah ia lakukan, meskipun hal itu hal sepele dan kecil bagi Kita. Karena bagi si sanguinis, meskipun hal sepele dan kecil, tetap harus mendapatkan penghargaan yang tulus.

Kepribadian sanguinis juga cenderung dicemburui banyak orang, oleh sebab itu Kita tidak perlu ikut-ikutan cemburu atau iri dengan hal-hal yang ada pada diri sanguinis.

Kepribadian Sanguinis Sebagai Orang Tua atau Keluarga

Pada dasarnya seorang kepribadian sanguinis sangat menyenangkan, begitu pula apabila Ia telah menjadi orang tua. Suasana rumah akan menjadi menyenangkan dan hal-hal yang rumit seperti permasalahan rumah tangga, dengan istri maupun dengan anak akan dicairkan dengan cara-cara yang menyenangkan.

Cara Menyikapi Kepribadian Sanguinis Sebagai Keluarga

Terkadang si sanguinis juga mudah marah dan memiliki emosi yang tidak stabil karena sanguinis juga ternyata “moody”. Maka dari itu untuk menyikapi kepribadian sanguinis sebagai keluarga, dengarlah setiap keluhan dan tanggapi dengan solusi sederhana.

Kepribadian Sanguinis Sebagai Kekasih

Si sanguinis sering kali memberikan kejutan-kejutan yang romantis bagi kekasihnya. Namun, kejutan-kejutan ini juga Ia berikan kepada semua orang sehingga tidak jarang ada orang yang menganggap berbeda dari sikapnya tersebut. Itulah mengapa seorang sanguinis disukai oleh banyak orang.

Cara Menyikapi Kepribadian Sanguinis Sebagai Kekasih

Jika kekasih Anda seorang sanguinis, hal yang wajib Anda pahami adalah kurangi rasa cemburu Anda terhadap orang lain yang juga menyukai atau tertarik dengannya. Memang cukup sulit awalnya karena Ia disukai banyak orang dan menjadi “bintang” dilingkungannya sehingga Anda harus menghargai dan memahami bahwa kekasih Anda adalah seorang yang menyenangkan bagi semua orang.

Itulah beberapa cara menyikapi kepribadian sanguinis sebagai teman, keluarga dan kekasih. Semoga dengan mengetahui hal ini Anda bisa bersikap dengan baik dan bijak dalam bersosialisasi. Semoga bermanfaat 🙂