≡ Menu
Catatan Kecil

Tidak Ada Kritik yang Membangun

in Motivasi

Kritik yang membangun? menurut Anda hal tersebut ada atau tidak.

Sering kali Kita mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut Kita, Kita sudah benar dan orang lain salah sehingga harus mendapatkan kritik dan saran.

Banyak orang percaya bahwa kritik itu membangun, membuat orang yang dikritik mengoreksi diri dan Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak masalah mengoreksi dan mengkritik orang lain asalkan Kritik yang Membangun.

Padahal, apabila Kita membaca buku-buku tentang motivasi dan kebijaksanaan, ternyata Kita akan menemukan bahwa TIDAK ADA kritik yang MEMBANGUN, semua kritik itu bersifat menekan perasaan, menghancurkan dan merusak mental orang yang dikritiknya.

Masaru Emoto dari Jepang, melakukan uji coba yang sangat menarik untuk membuktikan tentang kritik yang membangun ini. Ia menguji coba nasi/beras yang kemudian diletakkan di dalam toples yang berbeda.

Toples beras yang pertama setiap hari di berikan kritikan terus dan di tempel kertas bertulisan kata yang mengkritik, sedangkan toples beras yang kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.

Dan hasilnya dalam 2-3 minggu, toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman sedangkan toples kedua dengan isi yang sama masih berwarna putih bersih tak membusuk.

Uji coba ini juga dilakukan oleh beberapa guru di beberapa sekolah yang telah memahami pola pendidikan dan penanaman karakter kepada murid-muridnya.

Hasilnya, beras dalam toples yang setiap hari diberikan keritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk. Hal ini mengajarkan kepada Kita untuk tidak berkata yang kasar, mengejek, menjelek-jelekan orang lain, menghina dan menghujat orang lain atau bahkan memfitnah.

Kita dapat mempraktekan uji coba beras dalam toples tersebut apabila penasaran dan ingin membuktikan sendiri bahwa memang tidak ada kritik yang mambangun.

Pemahaman dan Penerapan bahwa Tidak Ada Kritik yang Membangun dalam Keluarga

Kita dapat menerapkan dan memberikan pemahaman tentang tidak ada kritik yang membangun dalam keluarga. Anda dapat memberikan contoh untuk setiap kali suami atau istri atau anak kita melakukan kesalahan, Anda tidak perlu bereaksi berlebihan dan mengkritiknya habis-habisan.

Bagaimana caranya?

Setiap mulut Kita merasa “gatal” untuk mengkritik orang lain, gantilah kritikan tersebut dengan ucapan terima kasih untuk setiap perbuatan baik yang telah mereka lakukan.

Kita dapat mengganti kritikan tersebut dengan pujian dan ucapan terima kasih karena telah melakukan hal baik atau meninggalkan hal yang buruk. Kita juga dapat memberikan pelukan agar ucapan terima kasih Kita lebih memberikan motivasi dan benar-benar menunjukan bahwa Kita tulus.

Setelah Anda mempraktekan hal ini, lihat dalam waktu 1 bulan. Adakah perubahan dalam hidup Kita?

Dan, masih percayakah Anda terhadap kritik yang membangun?

0 comments… add one

Leave a Comment